
Bagi kebanyakan orang, kompleks Keraton Kasunanan Surakata identik dengan adat dan bangunan khas Jawa di dalam tembok Baluwarti. Namun di luar itu, sebuah peninggalan lama yang hampir sama tuanya dengan keraton menjadi bukti kuatnya pengaruh Islam pada kehidupan Keraton Kasunanan masa lalu.
Sama-sama menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Keraton Kasunanan, namun bangunan Mesjid Agung tampak berbeda. Jika bangunan-bangunan lain umumnya memiliki unsur arsitektur Jawa yang dominan di setiap bagian, tidak demikian dengan Mesjid Agung. Dari luar, mesjid ini dikelilingi pagar dengan gerbang yang didominasi ciri arsitektur Persia.
Baru setelah memasuki komplek dalam mesjid, bentuk khas dari kebanyakan mesjid Agung di Jawa dapat terlihat jelas. Atap berbentuk limas bersusun dengan banyak tiang penyangga yang umum juga terlihat di sini. Namun unsur Persia juga tampak di dalam bangunan mesjid dan bukan hanya pada bentuk gerbang muka. ”Selain di gerbang, ornamen-ornamen dinding juga banyak yang mengandung unsur Persia,” terang Perwakilan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) di Masjid Agung Solo, Mustaqim, akhir pekan lalu.
Seperti bangunan model Jawa klasik pada umumnya, terdapat beberapa bagian mesjid dengan ciri yang berbeda. Di ruang induk, terdapat sebuah tiang utama yang disebut Saka Guru sebanyak empat buah. Berdasarkan keterangan dalam Sejarah Masjid Agung dan Gamelan Sekaten di Surakarta karangan HA Basit Adnan, tiang-tiang ini menjadi titik permulaan pembangunan mesjid pada 1757 M. Ruang ini berukuran 34,25 x 33,53 m dan mampu menampung 2000 orang jamaah.
Pembangunan mesjid yang luas ini dilakukan dalam berbagai tahap. Tahap pertama dilakukan pada zaman PB III yang juga memindahkan keraton dari Kartasura ke Solo. Pada masa PB IV dilakukan pembangunan mustaka (kubah baru) di puncak mesjid. Masa PB VIII (1830-1875) juga dilakukan penambahan beberapa ruangan. Ada tiga ruang baru pada masa itu yaitu, Pawastren (keputren) kiri dan kanan pada 1850, serambi yang berfungsi mirip dengan pendapa pada 1856 dan kubah dengan lapisan emas murni seberat 192 ringgit (Adnan, 1996).
Pada masa PB X yang dikenal dengan pembangunan kotanya yang maju juga dilakukan pembangunan baru, yaitu kolam air yang diresmikan pada 1928 dan umum dapat ditemukan pada mesjid-mesjid Jawa di daerah lain. Bangunan lainnya adalah menara azan setinggi 25 m yang dibangun pada 1929.
Mesjid Agung Solo
Tahun pembangunan : 1757 M
Luas lahan : 1,92 Ha
Ukuran ruang dalam : 34,25 x 33,53 m
Ukuran Pawestren : 29,68 x 8,20 m
Ukuran Serambi : 53,86 x 25 m

Tidak ada komentar:
Posting Komentar