Rabu, 06 Januari 2010

arsitektur hijau

2010, Arsitektur Hijau Dominasi Desain Properti








PERUBAHAN iklim global masih menentukan arah perkembangan desain arsitektur pada tahun 2008, bahkan menjadi suatu kepedulian semua pihak, terutama para arsitek.
Dengan demikian, arsitektur hijau (green architecture) dengan ciri bangunan gedung atau kawasan berkonsep ramah lingkungan yang sering disebut green building atau green development diperkirakan berkembang. Hal ini salah satu bentuk partisipasi para arsitek dalam upaya perbaikan iklim, peningkatan kawasan yang nyaman (comfort zone), dan pelestarian lingkungan.
Dengan kata lain, arsitektur hijau dan semua hal yang mengedepankan sustainable architecture atau arsitektur yang berkelanjutan akan tetap mendominasi konsep arsitektur pada tahun depan dengan isu utama maksimalisasi penghijauan.
Arsitek dan desainer Samuel A. Budiono yang sekaligus merupakan presdir PT Samuel A. Budiono & Associates misalnya, membuat desain arsiterktur yang bersahabat dengan alam sekitarnya.
Karya arsitekturnya yang sangat memerhatikan lingkungan dengan tetap mempertahankan unsur kemodernannya antara lain bangunan agro-park yang terdapat di Pandaan, Jawa Timur. Desain arsitektur bangunan utama agro-park dibuat tinggi, bertiang seperti rumah tradisional di Kalimantan yang ditopang balok-balok kayu berdiri, sebagai bentuk desain arsitektur modern yang ekspresif dan melambangkan kebangkitan yang optimistis dari suatu kondisi apa pun yang dirasa negatif.
Samuel menegaskan desain arsitektur tahun depan lebih dinamis dengan bentuk yang progresif dan menekankan pada pengembangan sesuai dengan situasi sosial dan alam di sekitarnya . "Nanti desain arsitektur lebih dinamis di mana bentuk yang progresif dan yang menekankan pada movement akan lebih berbicara dan gaya minimalis yang statis mulai ditinggalkan," katanya.
Dia mengatakan aliran minimalis memang masih tetap eksis di sejumlah negara maju yang tingkat kesibukan warganya cukup tinggi. Tuntutan bentuk yang simplicity dalam desain arsitektur sangat sesuai dengan life style yang supersibuk.
Mengenai unsur fungsi, kepraktisan dan bahkan kepolosan dari bentuk arsitektur dianggap mewakili era masyarakat sibuk, dibanding dengan adanya keruwetan yang ditimbulkan suatu ornamen.
Namun, gaya minimalis tampaknya sekarang ini mulai mencapai titik jenuh, terutama disebabkan kelatahan banyak pihak yang penggunaan istilah minimalis pada hampir setiap desain arsitektur.
Hal senada juga diungkapkan peneliti Research Development Consultant Building & Construction Interchange (BCI) Asia Dian Putra yang mengatakan bangunan ramah lingkungan yang dilengkapi roof garden (taman di atap) sangat menguntungkan untuk jangka panjang. Keuntungan tersebut antara lain menekan dampak negatif dari pengaruh gas emisi rumah kaca, pemanasan global dan krisis energi.
"Dengan kesadarannya sendiri, banyak pengembang di negara maju membuat desain arsitektur yang ramah lingkungan atau green development yang sejalan dengan kebijakan Protokol Kyoto dalam upaya menekan dampak emisi gas rumah kaca hingga 5,2%," katanya.
Dian juga mengatakan realisasi green development itu tidak sebatas desainnya, tetapi mencakup banyak aspek, seperti pilihan material serta bagian depan dan belakang gedung yang sesuai dengan arah angin dan pergerakan matahari.
Materialnya, kata Dian, dihindari penggunaan kayu karena dapat memicu terjadinya penggundulan hutan, jenis kaca dipilih yang dapat mengatur masuknya sinar matahari untuk mengatur suhu udara dan cahaya dalam ruang agar penggunaan lampu dan air conditioner lebih efisien.
Lebih lanjut, Dian mengatakan perubahan kecenderungan arsitektur terjadi karena manusia pada dasarnya ingin suatu pergantian atau memengaruhi perubahan desain arsitektur tersebut. "Life style®MDBU¯ dan perubahan gaya hidup juga menentukan arah desain dan arsiterktur yang dianggap mengikuti suatu selera pada periodenya," katanya.n RUMAHKU.COM/E-2



Pertumbuhan pembangunan dikota-kota besar seperti Jakarta mengakibatkan jumlah ruang hijau semakin berkurang, tampak di setiap sudut kota bangunan-bangunan tinggi menjulang terutama di jalan protokol Thamrin-Sudirman, sedangkan didaerah pinggiran kota pembangunan perumahan real estate telah merubah bentuk bentang alam dan hanya menyisakan sedikit area tanah untuk ruang terbuka hijau dan itupun hanya untuk sekedar pertimbangan visual estetika.
Kerapatan dari bangunan dijakarta telah melewati dari pada ambang batas idealnya perbandingan antara ruang tidak terbangun dan yang terbangun, pada wilayah peruntukan yang seharusnya memiliki kriteria pembangunan 30% : 70% ,dimana jumlah yang terbangun pada suatu wilayah hanya diperbolehkan 70% dari jumlah luas kawasan sedangkan sisanya merupakan daerah hijau.
Kepadatan dan Kerapatan Bangunan dikota-kota besar Indonesia khususnya di jakarta secara tidak langsung ikut menciptakan dan menambah tingginya efek rumah kaca yang terjadi, berkurang luasan daerah hijau menyebabkan udara panas jakarta kurang terabsorsi dengan baik sehingga terjadi apa yang disekenal dengan nama “urban Heat Island Effect”. Suhu udara kota mengalami peningkatan tajam akibat dominannya material perkerasan yang tidak bisa menyerap energi UV ray dari cahaya matahari dengan baik seperti infrastruktur jalan, penggunaan mesin pendingin /Air conditioning yang mengeluarkan energi panas, Material bangunan yang merefleksikan energi panas, energi panas dari mesin-mesin kendaraan bermotor dan mengecilnya daerah pendingin seperti luasan jalur sungai dan danau-danau butan. untuk menyiasati hal tersebut seharusnya pemerintah daerah jakarta mulai memikirkan solusi-solusi yang tepat dimana ketersediaan ruang- ruang terbuka hijau tidak mungkin terjadi,profil dibawah ini merupakan gambaran kondisi peningkatan suhu yang terjadi sehingga terbentuk apa yang dinamakan ‘urban heat island effect’

Pengoptimalan bentuk atap dengan teknologi “Green Roof” pada bangunan ‘Green Architecture’ merupakan salah satu solusi yang baik bagi alternatif ketersediannya kawasan hijau baru bagi perkotaan , dibeberapa negara lain telah mulai mencoba untuk menerapkan solusi ini seperti pada contoh dibawah ini.

Untuk penjelasan terperinci dapat di lihat pada designflute
ECOCITY JAKARTA = UTOPIA ?
December 10, 2007 in Urban Landscape | Tags: Cityspace, urban design, Urban ecology | No comments
When a city accepts as a mandate its quality of life; when it respects the people who live in it; when it respects the environment; when it prepares for future generations, the people share the responsibility for that mandate, and this shared cause is the only way to achieve that collective dream. - Jaime Lerner
Apa yang menjadi cerita sukses sebuah kota yang bernama Curitiba ?
Curitiba kini menjadi contoh bagi penataan suatu wilayah kota yang terencana secara konferhensif dari kota-kota dipenjuru dunia mulai dari perencanaan kota,system transportasi,manajemen limbah kota dan intergarsi antar lintas sektoral
Pantas jika cutiba mendapat julukan “Ecological capital of Brazil.” Reputasi ini dimulai dari visi seorang arsitek bernama Jaime lerner yang berkeyakinan “cities needed to be rediscovered as instruments of change” (Curitiba video, 1992)
Sebuah contoh dari seorang walikota Jaime lerner dapat membongkar dan menyiapkan sebuah solusi sebelum permasalahan kota terjadi dengan membuat master plan kota secara konferhensif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar